Langsung ke konten utama

Postingan

Esai Cerpen Pengkolan Buaya

  Nilai Kehidupan Dalam Cerpen “Pengkolan Buaya” Oleh Syafrizal Sahrun Cerpen yang diterbitkan Koran Tempo edisi minggu (8/1/2012) menyajikan nuansa kehidupan di daerah pelabuhan. Menceritakan kehidupan seorang anak yang karena setiap saat melewati pengkolan buaya, akhirnya dengan penjelasan ibunya mengenai kehebatan buaya, dia pun ingin jadi buaya. Keinginan itu dilukiskan cerpenis asal Medan, Hasan Al Banna, sebagai rasa kebutuhan akan perlindungan dalam menjalani kehidupan yang serba sulit. Apa lagi keinginan itu muncul dari seorang anak perempuan, sementara ayahnya adalah “buaya darat”—sering meninggalkan mereka. Hal itu dapat kita cicipi pada kutipan cerpen tersebut di bawah ini: “Buaya itu jahat, ya, Bu?” “ K alau diganggu.” “Mau itu makan orang?” “Mau-lah. Tapi kalau diganggu.” “Enak ya jadi buaya...” gumam Palti . B ukit kekaguman menjulang di mulutnya. “Kenapa?” “Biar bisa makan orang yang ganggu kita , ” jawab Palti serius. Sedang Ibunya hanya    ...

MENGEJA WAKTU

Kaki melangkah satu demi satu mengeja lembar-lembar waktu terjemahkan isyarat kelu yang mengalir menyatu debu kicau burung liar mengusik lengang merobohkan tonggak galau memukau tubuh semati tugu jalan-jalan binasa tanpa makam dan akhirnya hanya bekas-bekas sejarah yang mulai dapat diterjemah                          KOMISI, 2011 Syafrizal Sahrun (puisi ini telah di terbitkan pada Harian Analisa pada hari rabu / 9 November 2011) http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/09/20937/mencari_kabar/

PERADABAN

Tak ada kata hilang rupa Lenyap bersama waktu tergilas Dibalik zaman yang tak lagi purba Akankah kekal budaya Sementara manusia kembali hina Terjerembab pada panorama fana                        KOMISI, 2011 Syafrizal Sahrun (puisi ini telah di terbitkan pada Harian Analisa pada hari rabu / 9 November 2011) http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/09/20937/mencari_kabar/

KITA

Jika kita adalah surga maka prahara adalah quldi yang menggoda jika kita adalah madu maka prahara adalah nila yang merusak susu sebelanga dan jika prahara adalah ombak maka jadilah karang disamudera                              KOMISI, 2011 Syafrizal Sahrun (puisi ini telah di terbitkan pada Harian Analisa pada hari rabu / 9 November 2011) http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/09/20937/mencari_kabar/

MENCARI KABAR

Pagi menjelma wajah pelangi mati tapi tak busuk melainkan wangi melati dan kesturi pagi ini angin datang dalam bisu lantas akan ku cari kabarmu di antara remah-remah kefanaan KOMISI, 2011 Syafrizal Sahrun (puisi ini telah di terbitkan pada Harian Analisa pada hari rabu / 9 November 2011) http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/09/20937/mencari_kabar/

LANGKAH ANGIN DAN HUJAN

Puisi ini telah di terbitkan di Harian Analisa tanggal 21 September 2011 dan pada Hari yang sama di bacakan pada acara Halal Bi Halal Civitas Akademik UISU Al-Munawwarah LANGKAH ANGIN DAN HUJAN /1/ Saat aku menulis sajak ini mungkin kau sudah terlelap rebah dilantai beralas tikar plastik pinjaman kau tak memabawa tilam, bantal, guling, selimut dan boneka kesayangan sebab esok kau juga akan kembali dan menceritakan pengalaman selama kau jauh dari pandangan malam ini, aku merindu wujudmu kau masih setia datang walau bayang-bayang dan aku menulis sajak sesaat mengkin kau sudah terlelap sajak tentang langkah angin dan hujan LANGKAH ANGIN DAN HUJAN /2/ Sebelum ku tulis sajak ini saat aku duduk di pelataran masjid dekat rumahku segerombolan angin datang menerjang pintu dan jendela mereka melahap apa saja kayu, batu, pagar-pagar, bahkan orang-orang yang ada di depannya tak peduli tua atau muda tak peduli akan norma atau tatakrama aku melihat debu bagai saudara-saudara kita yang m...

Omong-omong Sastra SUMUT :

  “Politik” Rumah Sastra Kita Seiring perkembangan sastra, semakin banyak pula permasalahan yang ditimbulkan karenanya. Permasalahan-permasalahan dunia sastra juga wajib diperbincangkan, apa lagi oleh pegiat sastra itu sendiri. Kita mesti menyadari peranan kita dalam membina dan melestarikan budaya bersastra, khususnya orang-orang yang berkecimpung di dunia sastra. Siapa lagi kalau bukan kita. Mungkinkah orang-orang di luar dunia sastra yang akan melestarikannya, tentu tidak. Menyikapi hal tersebut, keberadaan Omong-omong sastra sumut sangat mendongkrak dalam pembahasan permasalah yang timbul dalam perkembangan sastra khususnya di sumatera utara. Baik itu tentang sejarah, peranan, masa depan dan tak terlepas juga dengan pengkajian karya sastra itu sendiri. Omong-omong sastra sumut ini berlangsung sudah 30 tahunan. Setelah di rumah syafrizal sahrun atas nama beberapa komunitas sastra (KOMPAK, KONTAN, KOMISI) sebagai fasilitator omong-omong sastra di bulan mei yang lalu, kini tepat...