Langsung ke konten utama

Postingan

Omong-omong Sastra Sumut: TIRU MENIRU DALAM BERKARYA

(Terbit di rubrik budaya Harian Waspada, 18 November 2012) Omong-omong Sastra Sumut TIRU MENIRU DALAM BERKARYA Oleh: Syafrizal Sahrun Plato berpendapat bahwa seni adalah sebagai usaha meniru alam dengan segala bentuknya dengan menggunakan suatu media. Sedangkan Aristoteles yang   tak lain murid Plato itu sendiri, berbeda pendapat dengan gurunya mengenai seni. Menurut Aristoteles, seni adalah peniruan alam, tetapi peniruan yang dimaksudkan harus ideal dalam arti penciptaan seni itu berdasarkan bentuk alam yang disertai ide penciptanya untuk mengahasilkan sesuatu yang lebih indah. Banyak memang pendapat-pendapat lain memengenai pengertian seni ini, tapi saya pendapat dua orang ini saja karena pendapat mereka mengenai tiru meniru atau disebut juga dengan mimesis. Prihal tiru meniru inilah yang saya jumpai pada ke dua makalah yang disajikan pada omong-omong sastra yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2012 di klinik dr Umar Zein—jalan Denai. Seperti biasa, kegia...

MAWAR

MAWAR Syafrizal Sahrun kau mawar di antara perkebunan mawar durimu, duri-duri dalam duri tangkaimu - genggamku racun, sakitku parasmu dahaga kering dalam kering jiwa-jiwaku kelopak dalam senyummu merekah-rekah pada mekar mawar dan kau mekar dalam tatap, dalam igau, dalam pukau dalam merah mawarmu tanpa mawar lain di kebun itu mawarmu tumbuh di ladang kering-keringku akarmu menghujam perut dalam perutku duri-durimu ikut dalam racun dalam nadi tubuh yang menyimpan teduh kau jadilah terus mawarku, tubuh terus di ladang kering-keringku walau detik gugur dalam waktu (Terbit di Rubrik Art & Cultur Harian Medan Bisnis, Minggu, 23 September 2012) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116709/syafrizal_sahrun/

TANAH KAMI

TANAH KAMI Syafrizal Sahrun lalu kami datang menggenggam dendam berbondong-bondong bak hujan yang lupa kemana pulang tangan-tangan yang perkasa sudah saatnya mengangkasa sebab tak ada lagi tempat mengadu yang nyata selain berontak demi hidup layak di atas tanah yang kaya ada aniaya sudah sekian lama lalu kami mau jadi apa sementara harta ini kami yang punya di tanah tercinta, kami disiksa dijajah dan di kebiri hidupnya kami muak menjadi sapi kami muak terus menyepi kini sepi menjadi api dan akan kami bakar sosok lelaki kekar yang kau bayar Percut, 27 Oktober 2011 (Terbit di Rubrik Art & Cultur Harian Medan Bisnis, Minggu, 23 September 2012) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116709/syafrizal_sahrun/

PEREMPUAN YANG MASUK DARI BELAKANG

PEREMPUAN YANG MASUK DARI BELAKANG Syafrizal Sahrun Hai, perempuan yang masuk dari belakang Di manakah ayahku Sekian lama ku sapa mengapa tak pernah menyapa Hai perempuan yang mengendap-endap dari sudut berkarat Di mana ayahku Mengapa kau jadi empedu Hai perempuan yang melintas Di mana ayahku Apakah aku bertanya tak pantas? Percut, 17 Januari 2012 (Terbit di Rubrik Art & Cultur Harian Medan Bisnis, Minggu, 23 September 2012) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116709/syafrizal_sahrun/

TUHAN

TUHAN Syafrizal Sahrun Tuhan, pinanglah aku dengan maharmu ajak aku bercengkrama pada altar dan ceritakan tentang misteri hidup yang membuat aku mesti terburu Tuhan, ajari aku mencinta Ajari aku melepas sebab ikhlas Tuhan, inilah aku sekelumit risalah yang tersesat Percut, 2011 (Terbit di Rubrik Art & Cultur Harian Medan Bisnis, Minggu, 23 September 2012) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/09/23/116709/syafrizal_sahrun/

SENJA YANG ANEH

SENJA YANG ANEH Syafrizal Sahrun akankah senja akan lama singgah di dermaga ini lalu aku bersembunyi dan kaupun bersembunyi kita tak lagi seperti alir air apakah kita akan tersekat-sekat lalu kita menjadi sendiri-sendiri Percut, 1 Januari 2012 (Terbit di rubrik Budaya Harian Mimbar Umum, Sabtu, 6 Oktober 2012)

SENJA

SENJA Syafrizal Sahrun Di tepi pantai begitu cepat mekar ia begitu cepat jua layunya sehingga selalu gagal ku setubuhi ia Percut, 20 Januari 2012 (Terbit di rubrik Budaya Harian Mimbar Umum, Sabtu, 6 Oktober 2012)