Langsung ke konten utama

WAKTU


WAKTU
Syafrizal Sahrun


Adakah yang harus kita bagi dengan waktu
Atau waktu yang membagi-bagi kita

Kita yang mencari waktu
Atau waktu yang mencari kita

Kitakah waktu
Atau waktukah kita

Waktu yang mana yang kita buru
Atau kita yang mana yang diburu waktu

Waktu itukah
Atau itukah waktu

Waktu yang mewaktu di dalam waktu
Atau …. ?
Sementara jarum jam masih menunjukkan angka yang itu-itu juga


Bagan Percut, 1 Februari 2012
(Terbit di rubrik Budaya Harian Mimbar Umum, Sabtu, 6 Oktober 2012)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku: Langkah Awal Pemahaman Teori Sastra

 (Terbit di rubrik Belia Harian Medan Bisnis, 2 Desember 2012) Langkah Awal Pemahaman Teori Sastra Oleh: Syafrizal Sahrun Judul                : Pengantar Teori Sastra Penulis              : Dwi Susanto S.S, M.Hum Penerbit            : CAPS Tahun               : Cetakan pertama, 2012 Tebal                : vii + 272 halaman ISBN                : 978-602-9324-03-7 Secara normatif, studi sastra dibagi dalam beberapa bidang, yakni teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra, sastra bandingan, dan kajian budaya. Teori sastra mempelajari kaidah-kaidah, paradigma-paradigma, dan...

KEPADA KAU YANG BERHIANAT

KEPADA KAU YANG BERHIANAT Syafrizal Sahrun sebenarnya kau telah menyimpan bangkaimu di dalam ketelanjangan dan tak mampu menyekat-nyekat bau dan akhinya sampai juga ke paru-paru Komunitas Home Poetry, 2011 Di terbitkan Harian Analisa (Rabu, 25 April 2012) http://www.analisadaily.com/news/read/2012/04/25/47601/pintu/

Puisi Syafrizal sahrun yang terbitkan di Harian Analisa tanggal 2 Juni 2012

Puisi-puisi Syafrizal Sahrun KETIKA HUJAN malam basah ini berbasabasi dengan kesepian senandung memecah musim nampaklah seberkas sinar yang merembas dari dasar yang retak sementara menara bagai menuding langit dan berbicara dengan bahasa yang ganjil “katakanlah sesuatu”, sentak malam pada sebuat perdebatan yang begitu sepi mengapa kau bebankan kegetiran pada pundakku yang layu sedangkan kau tampak biasa sementara hujan bak serdadu di medan laga 2012 Komunitas Home Poetry KETIKA KITA BERJALANJALAN suatu waktu kau mengajakku berjalan-jalan melewati taman-taman bunga yang tak berkesudahan di dalam kepalamu kumbang-kumbang dan semerbak yang begitu khas menjadikan tanganku dan tanganmu berjabatan mengeluhkan harapan yang tak kunjung sampai di bawah pohon rindang yang mengingatkan aku pada sepenggal sajak yang tak mampu aku lanjutkan kita berhenti “apa kau mau mengiyakannya?” katamu selembar daun jatuh mengguit pundak...