Langsung ke konten utama

Sejarah Nama Indonesia

Rebana - Minggu, 07 Agt 2011 04:03 WIB
Oleh: Syafrizal Sahrun, S.Pd..
Indonesia dalam pengertian geografis berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141° Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11 Lintang Selatan. Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya berada di dalam wilayah itu.
Istilah Indonesia digunakan oleh G. W. Earl dalam bidang etnologi. Dia menyebut Indunesians dan Melayunesians bagi penduduk Kepulauan Melayu. Dalam JIAEA volume IV tahun1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan, sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris).

"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia..."

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) dari pada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Pada JIAEA, James Richardson Logan juga menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf "u" digantinya dengan huruf "o" agar ucapannya lebih baik. Lahirlah istilah Indonesia. Untuk itu dapat dikatakan James Ricardson Logan yang menyempurnakan nama Indonesia.

Pada tahun 1862 istilah Indonesia juga digunakan oleh orang Inggris bernama Maxwell dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi.

Kata Indonesia berasal dari kata Latin "Indus" yang berarti Hindia dan kata Yunani "nesos" yang berarti pulau, "nesioi" (jamak) berarti pulau-pulau. Dengan demikian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia. Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu "nusa" yang berarti pulau dan "antara" yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, dia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiƫr ("orang Indonesia").

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya; "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiƫr) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia".

Pada tahun 1927, Soekarno mendirikan sebuah partai bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) yang nasionalis berazaskan Marhaenisme. Pada tahun 1928 Kongres Pemuda II di Jakarta menggunakan istilah Indonesia dalam hubungan dengan persatuan bangsa. Kongres Pemuda itu pada  tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yang di dalamnya tercantum nama Indonesia.

Istilah Indonesia secara resmi  digunakan sebagai nama negara kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan  proklamasi kemerdekaan Indonesia. Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.


Medan, Juli 2011
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/08/07/7332/sejarah_nama_indonesia/ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku: Langkah Awal Pemahaman Teori Sastra

 (Terbit di rubrik Belia Harian Medan Bisnis, 2 Desember 2012) Langkah Awal Pemahaman Teori Sastra Oleh: Syafrizal Sahrun Judul                : Pengantar Teori Sastra Penulis              : Dwi Susanto S.S, M.Hum Penerbit            : CAPS Tahun               : Cetakan pertama, 2012 Tebal                : vii + 272 halaman ISBN                : 978-602-9324-03-7 Secara normatif, studi sastra dibagi dalam beberapa bidang, yakni teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra, sastra bandingan, dan kajian budaya. Teori sastra mempelajari kaidah-kaidah, paradigma-paradigma, dan...

KEPADA KAU YANG BERHIANAT

KEPADA KAU YANG BERHIANAT Syafrizal Sahrun sebenarnya kau telah menyimpan bangkaimu di dalam ketelanjangan dan tak mampu menyekat-nyekat bau dan akhinya sampai juga ke paru-paru Komunitas Home Poetry, 2011 Di terbitkan Harian Analisa (Rabu, 25 April 2012) http://www.analisadaily.com/news/read/2012/04/25/47601/pintu/

Puisi Syafrizal sahrun yang terbitkan di Harian Analisa tanggal 2 Juni 2012

Puisi-puisi Syafrizal Sahrun KETIKA HUJAN malam basah ini berbasabasi dengan kesepian senandung memecah musim nampaklah seberkas sinar yang merembas dari dasar yang retak sementara menara bagai menuding langit dan berbicara dengan bahasa yang ganjil “katakanlah sesuatu”, sentak malam pada sebuat perdebatan yang begitu sepi mengapa kau bebankan kegetiran pada pundakku yang layu sedangkan kau tampak biasa sementara hujan bak serdadu di medan laga 2012 Komunitas Home Poetry KETIKA KITA BERJALANJALAN suatu waktu kau mengajakku berjalan-jalan melewati taman-taman bunga yang tak berkesudahan di dalam kepalamu kumbang-kumbang dan semerbak yang begitu khas menjadikan tanganku dan tanganmu berjabatan mengeluhkan harapan yang tak kunjung sampai di bawah pohon rindang yang mengingatkan aku pada sepenggal sajak yang tak mampu aku lanjutkan kita berhenti “apa kau mau mengiyakannya?” katamu selembar daun jatuh mengguit pundak...